Dunia pengajaran dan pembelajarnya adalah investasi terbesar hidupku.
![]() |
| Ilustrasi Galih Pranata dalam alam pengajarannya, membawa tokoh sejarah kepada pembelajarnya (ilustrasi oleh Galih Pranata) |
Wahai blogku, kali ini aku memulai tulisan bukan sebagai seorang jurnalis, tapi sebagai guru yang menulis.
Dalam beberapa siniar dan seminar, kunyatakan dengan lantang bahwa investasi terbesarku bukan lagi emas atau tanah, tapi ilmu yang tersampaikan pada pembelajarku di alam pengajaran.
Bukan berarti munafik, emas atau tanah bisa ditempuh dengan pelbagai caraku yang tak perlu publik tahu, tapi menyampaikan ilmu yang manfaat adalah tantangan terbesar dalam hidup.
Menjadi pengajar atau seorang guru memang dipandang sebagai salah satu penghidupan. Cara mendapat makan dari jerih payah mengajar. Tapi, idealitas yang bersemayam dalam dada mengisyaratkan bahwa menjadi guru jangan hanya jadi guru.
Selain pengajaran moral dan pengetahuan, aku ingin mewarisi keterampilan hidup yang dipunya selama ini: menulis. Ya, guru yang mengajarkan menulis kepada para pembelajarnya.
Dalam giat-giat seminar pada guru-guru di SMP IT Iqro', Boyolali, aku sampaikan kepada guru bahwa misi terberat saat ini adalah mendorong para siswa untuk berliterasi. Utamanya, dalam hal membaca dan menulis.
![]() |
| Seminar penulisan untuk guru-guru SMP IT Iqro' Boyolali sekaligus guru di bawah naungan Yayasan Mitra Media Boyolali (laman web SMP IT Iqro' Nogosari) |
Mencintai buku dan berusaha untuk menyuarakan isi pikirannya. Melatih kepandaian pembelajarnya dengan menulis. Namun, nahas. Dalam hematku, peradaban ini sulit terbangun selama belum berdirinya perpustakaan yang memadai di sekolah.
Perpustakaan jadi tolok ukur untuk mendorong siswa bersantai, memanjakan dirinya dengan buku, membuang waktunya demi beroleh ilmu, pengajaran moral yang dikandung buku.
Pada permulaannya barangkali belum bisa ditemui siswa yang langsung mengambil buku dari raknya dan membuka satu per satu lembar halamannya.
Setidak-tidaknya, mereka harus mulai merasa bahwa perpustakaan adalah tempat ternyaman di sekolahnya.
Hingga pada gilirannya, mereka mulai beranikan diri menyentuh buku, memilih judul yang menurutnya menarik, membaca selembar atau dua, sampai terkail untuk bisa menamatkannya. Dari sini, gairah membaca buku dapat dirangsang dan tumbuh.
*
Salah satu siswa yang kukenal dekat dan gemar bincang sejarah adalah Fathan Arga Alfausta. Siswa yang tak hanya sekadar menanya pada tataran mendasar, tapi senang mengkaji sejarah secara mendalam.
Seorang siswa kelas XI SMA Al Islam 1 Surakarta yang menerima pengajaran sejarah dariku di tahun 2023/2024 lalu. Datang dan memamerkan pembacaannya tentang History of Java karya Raffles.
Ya, buku yang biasanya baru terbaca oleh mahasiswa yang ditantang oleh alm. Prof. Dr. Hermanu Joebagio, M. Hum., saat jadwal mata kuliahnya, dengan ringan dibawa ke sana kemari, dibaca di ruang-ruang senggang seorang siswa kelas XI.
Tak berhenti di situ, Arga—panggilku pada Fathan Arga Alfausta—akui sudah tamatkan pembacaannya pada Max Havelaar, yang bahkan aku sendiri belum bisa selesaikan, karena gaya alih bahasanya yang memusingkan.
Baginya, membaca buku-buku sejarah menjadi satu sisi kegemarannya menghabiskan waktu-waktu. Ini membuatku kagum bukan kepalang pada kebiasaannya yang tak biasa. Tak biasa bagi anak-anak seusianya.
"Arga," panggilku saat bertemu dengannya di jam istirahat pertama. "Bisa ikut saya ke perpustakaan setelah ini?"
"Maaf permisi, untuk apa ya, pak?" tanyanya. Sesampainya di perpustakaan sekolah, aku memberinya kesempatan untuk mulai menulis yang digemarinya.
Bagiku, persoalan bacaan sumber, Arga sudah menjelajah banyak dan tak ada keberatan baginya untuk terlibat dalam historiografi.
Aku berterus terang padanya jika keinginan terbesar dalam hidupku adalah menjadikan pembelajarku untuk masuk dan terlibat dalam dunia jurnalisme dan riset. Dalam lubuk hati aku memohon pada Arga, "bantu saya kali ini untuk mewujudkannya."
Sayembara dari Dinas Cagar Budaya Jawa Tengah dalam pamflet digital bertebaran. Aku staff kesiswaan yang kala itu ditugasi mengawal para pembelajar untuk terlibat aktif dalam perlombaan. Tapi, kali ini, demi egoku, pamflet itu kulahap sendiri.
"Sayembara tulisan ini minta kamu menulis tentang cagar budaya, baiknya kamu pikirkan kajian menarik dari cagar budaya di selubung Surakarta saja ya, jangan cari yang jauh," pintaku pada Arga.
Dengan tanggap, dia langsung menyinggung Kavallerie-Artillerie sebagai bangunan cagar yang jadi saksi keagungan para Legiun Mangkunegaran di masa jayanya. Salah satu prajurit perang di Jawa yang mendapat pelatihan perang langsung dari bangsa Barat!
![]() |
| Proses pembimbingan pada 19 September 2023: penyuntingan ulang dan telaah bersama karya tulis bersama Fathan Arga Alfausta (Dokumentasi Pribadi) |
Maka, dari situ ia mulai menyelisik, mengumpulkan dokumentasi gambar dan bacaan, hingga berminggu-minggu lamanya, ketekunannya membuahkan hasil. Jadilah satu laporan riset tentang Gedung Kavallerie-Artillerie karya Fathan Arga.
Aku langsung terlibat dalam proses penyuntingannya, melihat validitas sumbernya, struktur kata, hingga temuan-temuan data. Seratus porsen kujamin, Arga tak menggunakan bantuan AI dalam menulisnya!
Setelah siap dan dikemas, laporan riset ini kami kirim ke dinas di Semarang dengan harap-harap cemas, bagi Arga.
Bagiku, suatu karya akan bernilai bila dikerjakan dengan kejujuran, dan yang terpenting: selesai! Nothing to lose, perduli setan akan juara atau kalah dalam sayembara ini.
Penghargaan sekolah, uang hadiah, tiada arti bagiku. Aku hanya butuh mendorong motivasi, mengajari seluruh kemampuanku dalam menulis, mengatur intensitas bacanya, dan membantu pembelajarku merealisasikan tulisannya, sudah merupakan pencapaian.
Kemenangan terbesarku diujudkan pada seorang anak kelas XI yang mundur-maju dalam menulis historiografi, tapi pada akhirnya berhasil merealisasikan mimpinya. Sesederhana itu kemenanganku!
*
GAGAL!
Arga tak enak hati padaku tentang semua jerih yang kuupayakan selama pembimbingan menulis riset tempo lalu.
Aku menampik, mengalihkan itu: "tulisanmu baik, dan negeri ini perlu tahu kalau mereka punya siswa jujur sepertimu. Gemar membaca dan mencintai buku-buku sejarah dari nurani. Buat saya itu modal."
Dalam upaya kerasku berikutnya, aku menyunting habis gaya bahasanya, memberi konjungsi dan kutipan yang ideal sepatutnya jurnal ilmiah.
Setelahnya, kuupayakan mencari OJS (sistem submission untuk jurnal ilmiah yang terbuka secara umum) agar dapat memuat tulisan kami secara nasional.
Aku terhenti pada OJS UIN Imam Bonjol Padang, Tarikhuna. Jurnal Pendidikan Sejarah. OJS ini telah terakreditasi Sinta 4, merupakan posisi strategis untuk menerbitkan satu buah kolaborasi antara guru-siswa.
Bertitimangsa Juni 2024, jurnal ini kuberi tajuk: Teroka-Histori Legiun Mangkunegaran dari Gedung Kavallerie-Artillerie.
Bagiku, ini adalah kenang-kenangan termanis dalam perlembahan hidup seorang guru muda sepertiku. Bercita tak wajar, tapi berhasil mewujudkannya.
Akan sangat sulit menemukan insan segemilang Arga dengan kegemarannya membaca buku-buku sejarah. Menariknya, di sela pembimbingan menulis itu, kuajukan tanya:
"Besok kalau sudah kelas XII, akan ambil (kuliah) jurusan apa, Ga?"
"Dokter, pak"
Aku terkekeh. Sekali pun nantinya ia beroleh gelar sarjana, menjadi dokter kemudian, dia hanya perlu ingat: sejarah selalu punya tempat di hatinya.
Kembali jika kau rindu, tuliskan lagi seperti waktu itu!
***


.jpg)

Komentar
Posting Komentar