Langsung ke konten utama

Dinamika Perjalanan: Cinta dan Tulisan (bagian 4)

Dunia pengajaran dan pembelajarnya adalah investasi terbesar hidupku.

Ilustrasi Galih Pranata dalam alam pengajarannya, membawa tokoh sejarah kepada pembelajarnya (ilustrasi oleh Galih Pranata) 

Wahai blogku, kali ini aku memulai tulisan bukan sebagai seorang jurnalis, tapi sebagai guru yang menulis. 

Dalam beberapa siniar dan seminar, kunyatakan dengan lantang bahwa investasi terbesarku bukan lagi emas atau tanah, tapi ilmu yang tersampaikan pada pembelajarku di alam pengajaran. 

Bukan berarti munafik, emas atau tanah bisa ditempuh dengan pelbagai caraku yang tak perlu publik tahu, tapi menyampaikan ilmu yang manfaat adalah tantangan terbesar dalam hidup. 

Menjadi pengajar atau seorang guru memang dipandang sebagai salah satu penghidupan. Cara mendapat makan dari jerih payah mengajar. Tapi, idealitas yang bersemayam dalam dada mengisyaratkan bahwa menjadi guru jangan hanya jadi guru.

Selain pengajaran moral dan pengetahuan, aku ingin mewarisi keterampilan hidup yang dipunya selama ini: menulis. Ya, guru yang mengajarkan menulis kepada para pembelajarnya.

Dalam giat-giat seminar pada guru-guru di SMP IT Iqro', Boyolali, aku sampaikan kepada guru bahwa misi terberat saat ini adalah mendorong para siswa untuk berliterasi. Utamanya, dalam hal membaca dan menulis. 

Seminar penulisan untuk guru-guru SMP IT Iqro' Boyolali sekaligus guru di bawah naungan Yayasan Mitra Media Boyolali (laman web SMP IT Iqro' Nogosari)

Mencintai buku dan berusaha untuk menyuarakan isi pikirannya. Melatih kepandaian pembelajarnya dengan menulis. Namun, nahas. Dalam hematku, peradaban ini sulit terbangun selama belum berdirinya perpustakaan yang memadai di sekolah. 

Perpustakaan jadi tolok ukur untuk mendorong siswa bersantai, memanjakan dirinya dengan buku, membuang waktunya demi beroleh ilmu, pengajaran moral yang dikandung buku.

Pada permulaannya barangkali belum bisa ditemui siswa yang langsung mengambil buku dari raknya dan membuka satu per satu lembar halamannya. 

Setidak-tidaknya, mereka harus mulai merasa bahwa perpustakaan adalah tempat ternyaman di sekolahnya.

Hingga pada gilirannya, mereka mulai beranikan diri menyentuh buku, memilih judul yang menurutnya menarik, membaca selembar atau dua, sampai terkail untuk bisa menamatkannya. Dari sini, gairah membaca buku dapat dirangsang dan tumbuh. 

*

Salah satu siswa yang kukenal dekat dan gemar bincang sejarah adalah Fathan Arga Alfausta. Siswa yang tak hanya sekadar menanya pada tataran mendasar, tapi senang mengkaji sejarah secara mendalam.

Seorang siswa kelas XI SMA Al Islam 1 Surakarta yang menerima pengajaran sejarah dariku di tahun 2023/2024 lalu. Datang dan memamerkan pembacaannya tentang History of Java karya Raffles.

Ya, buku yang biasanya baru terbaca oleh mahasiswa yang ditantang oleh alm. Prof. Dr. Hermanu Joebagio, M. Hum., saat jadwal mata kuliahnya, dengan ringan dibawa ke sana kemari, dibaca di ruang-ruang senggang seorang siswa kelas XI.

Tak berhenti di situ, Arga—panggilku pada Fathan Arga Alfausta—akui sudah tamatkan pembacaannya pada Max Havelaar, yang bahkan aku sendiri belum bisa selesaikan, karena gaya alih bahasanya yang memusingkan.

Baginya, membaca buku-buku sejarah menjadi satu sisi kegemarannya menghabiskan waktu-waktu. Ini membuatku kagum bukan kepalang pada kebiasaannya yang tak biasa. Tak biasa bagi anak-anak seusianya.

"Arga," panggilku saat bertemu dengannya di jam istirahat pertama. "Bisa ikut saya ke perpustakaan setelah ini?" 

"Maaf permisi, untuk apa ya, pak?" tanyanya. Sesampainya di perpustakaan sekolah, aku memberinya kesempatan untuk mulai menulis yang digemarinya. 

Bagiku, persoalan bacaan sumber, Arga sudah menjelajah banyak dan tak ada keberatan baginya untuk terlibat dalam historiografi.

Aku berterus terang padanya jika keinginan terbesar dalam hidupku adalah menjadikan pembelajarku untuk masuk dan terlibat dalam dunia jurnalisme dan riset. Dalam lubuk hati aku memohon pada Arga, "bantu saya kali ini untuk mewujudkannya."

Sayembara dari Dinas Cagar Budaya Jawa Tengah dalam pamflet digital bertebaran. Aku staff kesiswaan yang kala itu ditugasi mengawal para pembelajar untuk terlibat aktif dalam perlombaan. Tapi, kali ini, demi egoku, pamflet itu kulahap sendiri.

"Sayembara tulisan ini minta kamu menulis tentang cagar budaya, baiknya kamu pikirkan kajian menarik dari cagar budaya di selubung Surakarta saja ya, jangan cari yang jauh," pintaku pada Arga.

Dengan tanggap, dia langsung menyinggung Kavallerie-Artillerie sebagai bangunan cagar yang jadi saksi keagungan para Legiun Mangkunegaran di masa jayanya. Salah satu prajurit perang di Jawa yang mendapat pelatihan perang langsung dari bangsa Barat! 

Proses pembimbingan pada 19 September 2023: penyuntingan ulang dan telaah bersama karya tulis bersama Fathan Arga Alfausta (Dokumentasi Pribadi)

Maka, dari situ ia mulai menyelisik, mengumpulkan dokumentasi gambar dan bacaan, hingga berminggu-minggu lamanya, ketekunannya membuahkan hasil. Jadilah satu laporan riset tentang Gedung Kavallerie-Artillerie karya Fathan Arga.

Aku langsung terlibat dalam proses penyuntingannya, melihat validitas sumbernya, struktur kata, hingga temuan-temuan data. Seratus porsen kujamin, Arga tak menggunakan bantuan AI dalam menulisnya!

Setelah siap dan dikemas, laporan riset ini kami kirim ke dinas di Semarang dengan harap-harap cemas, bagi Arga. 

Bagiku, suatu karya akan bernilai bila dikerjakan dengan kejujuran, dan yang terpenting: selesai! Nothing to lose, perduli setan akan juara atau kalah dalam sayembara ini. 

Penghargaan sekolah, uang hadiah, tiada arti bagiku. Aku hanya butuh mendorong motivasi, mengajari seluruh kemampuanku dalam menulis, mengatur intensitas bacanya, dan membantu pembelajarku merealisasikan tulisannya, sudah merupakan pencapaian. 

Kemenangan terbesarku diujudkan pada seorang anak kelas XI yang mundur-maju dalam menulis historiografi, tapi pada akhirnya berhasil merealisasikan mimpinya. Sesederhana itu kemenanganku!

*

GAGAL! 

Arga tak enak hati padaku tentang semua jerih yang kuupayakan selama pembimbingan menulis riset tempo lalu. 

Aku menampik, mengalihkan itu: "tulisanmu baik, dan negeri ini perlu tahu kalau mereka punya siswa jujur sepertimu. Gemar membaca dan mencintai buku-buku sejarah dari nurani. Buat saya itu modal."

Dalam upaya kerasku berikutnya, aku menyunting habis gaya bahasanya, memberi konjungsi dan kutipan yang ideal sepatutnya jurnal ilmiah.

Setelahnya, kuupayakan mencari OJS (sistem submission untuk jurnal ilmiah yang terbuka secara umum) agar dapat memuat tulisan kami secara nasional. 

Aku terhenti pada OJS UIN Imam Bonjol Padang, Tarikhuna. Jurnal Pendidikan Sejarah. OJS ini telah terakreditasi Sinta 4, merupakan posisi strategis untuk menerbitkan satu buah kolaborasi antara guru-siswa. 


Proses pembacaan terakhir pada 25 September 2023 sebelum dikirim ke Dinas Cagar Budaya Provinsi di Kota Semarang (Dokumentasi Pribadi)

Benar saja, selang beberapa bulan kemudian, bahkan sampai pada gilirannya aku meninggalkan sekolah lama dan Arga di dalamnya, jurnal kami terbit! 

Bertitimangsa Juni 2024, jurnal ini kuberi tajuk: Teroka-Histori Legiun Mangkunegaran dari Gedung Kavallerie-Artillerie. 

Bagiku, ini adalah kenang-kenangan termanis dalam perlembahan hidup seorang guru muda sepertiku. Bercita tak wajar, tapi berhasil mewujudkannya. 

Akan sangat sulit menemukan insan segemilang Arga dengan kegemarannya membaca buku-buku sejarah. Menariknya, di sela pembimbingan menulis itu, kuajukan tanya:

"Besok kalau sudah kelas XII, akan ambil (kuliah) jurusan apa, Ga?" 

"Dokter, pak" 

Aku terkekeh. Sekali pun nantinya ia beroleh gelar sarjana, menjadi dokter kemudian, dia hanya perlu ingat: sejarah selalu punya tempat di hatinya. 

Kembali jika kau rindu, tuliskan lagi seperti waktu itu! 

***



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Repost: 'Jadi Santri Harus Berani'

"Bukan, hidup bukan tentang lemparan dadu. Tapi peluang-peluang yang mungkin itu diciptakan atas dasar keberanian." Lukisan cat cair Galih Pranata saat menjadi ketua pelaksana Pesantren Kilat di MTsN 1 Pusakanagara (dokumentasi pribadi) M aret 2025 lalu, penerbit merayakan novel bertajuk Bunga di Hari Lalu yang kutulis telah terjual ratusan eksemplar. Di samping itu, Managing Chief Editor National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata Thamrin memberi apresiasi atas produktifitas dalam menulis sejumlah artikel. Kata teman-teman redaksi sih , jumlah artikel yang sudah kuterbitkan selalu berkejaran dengan rekor gol megabintang sepak bola, Cristiano Ronaldo. Di mana telah kuterbitkan 931 artikel sejak Agustus 2021, sedangkan Cristiano telah mencatat 933 gol setelah kemenangan Al Nassr atas Al Riyadh (13/04/2025). Namun, dari sejumlah perayaan yang dinikmati. Hanya rasa syukur yang kembali membawaku pulang pada ingatan masa lewat. Ingatan tentang seorang ini bertumbuh dari sebuah...

PERUBAHAN ITU PERLU

B ertepatan pada hari ahad 17 Juni 2012, saga the revolutioner atau santri ikhwan angkatan 15, resmi melepas keluh kesahnya sebagai santri Husnul Khotimah lewat acara akbar yang di gelar di lapang basket putra ponpes dan di hadiri oleh rekan rekan alumnus, para wali santri, juga sejumlah tamu undangan. Haflatul Ikhtitam. Acara yang berdurasi sekitar 420 menit berlangsung secara efektif dan merupakan acara puncak dari perjalanan panjang yang di lalui oleh STR, pasalnya telah banyak cerita yang di teladani selama hidup 4 sampai 6 tahun menuntut ilmu. Tak heran jika para alumni berderai air mata. semua nya berakhir dengan indah, husnul khotimah. Pecahkan Sejumlah Rekor Mengakhiri masa-masa penuh suka duka,tak luput pula oleh torehan yang dituai para revolutioner 15.

Indonesia Bisa Senyum Lagi?

Masih adakah pejuang bangsa ini? Jauh perjuangan mereka para pahlawan bangsa berkorban habis habisan demi memperjuangkan kemerdekaan negara kaya berdaulat Indonesia. mereka terkubur dalam ketenangan dan darahnya menyuburkan tanah bumi pertiwi. tidak akan pernah tenggelam matahari menyinari tanah ini, sampai pada masanya perjuangan pahlawan negara kembali. lihat negeri kita kini, punya banyak limpahan alam namun hanya sedikit menguntungkan, para pejabat negara yang kerjanya foya foya, akhlak para penerus bangsa yang umurnya habis dibunuh narkoba, yang semangatnya runtuh di hantam kehancuran, hanya menunggu waktu negeri kita hilang di hantam  zaman yang namanya di ambang kehancuran. Bagaimana ini kembali? masih adakah pejuang yang darahnya kembali menyuburkan tanah ini, pejuang yang mengorbankan senyumannya untuk anak cucunya di masa depan nanti? pejuang yang mengusir penjajah penjajah berperut buncit? Biar harapan kami menggantung jauh di atas langit, hanya waktu yang ...

Music