Langsung ke konten utama

Dinamika Perjalanan: Cinta dan Tulisan (bagian 2)

Sejak kecil..
Aku punya cita-cita menulis di media massa, dan sampai saat ini, hanya bekal yakin yang ku punya.

Sebuah ilustrasi, menulis sebagai cara untuk mengabadikan gagasan
(ilustrasi oleh Galih Pranata).


Maka, cerita hidupku berlanjut, tentang "Cinta dan Tulisan" di bagian kedua.

2020, aku memantapkan diri untuk meminang kekasih hatiku, Indah yang jadi muara cintaku. Kami menikah pada 4 April 2020, dan membangun rumah tangga yang sederhana, tapi bahagia. Ia jadi supporting system dalam setiap keputusan yang aku pilih. Ia sosok penting di balik suka dukaku untuk menamatkan sekolah magisterku. 

Aku juga semakin berani mengambil banyak peluang demi bisa terus berkarya dan merawat segala yang telah kupunyai dalam hati dan pikiranku. Lebih-lebih, setelah aku menjadi guru, menulis jadi alternatif lain demi memperkuat kondisi finansial negara—Indah jadi ibu negaranya.

Ya, aku menjadi guru di SMA Al Islam 1 Surakarta sejak tahun 2019, setelah menjadi guru di SMA Muhammadiyah 3 Surakarta selama setahun sejak 2018. Dari sana, aku mewarisi banyak pengetahuan yang kumiliki kepada segenap pembelajarku.

Tiba di tahun 2021, saat perkunjunganku ke teman dekat sesama alumni HK (Husnul Khotimah), bernama Bocil (Fadhil Ramadhan) dan Jabe (Ja'far Abdus Salam) di warung makan Jepun, dekat asrama Mahasiswa UNS, jadi titik balik yang mengubah aktivisme kepenulisanku.

Si Bocil, panggilan akrabku kepada Fadhil, bekas mahasiswa magang di National Geographic Indonesia. Aku memintanya, atau sedikit menantangnya untuk menghubungi "bos" dari National Geographic Indonesia, bahwa aku juga bisa menulis untuk media sohor itu. 

Fadhil Bocil hanya nyeletuk, "seriusan, lu?" seraya menekankan. Aku mengangguk mantap untuk seterusnya menyeruput es teh di siang terik itu. Kami melanjutkan obrolan yang semula sejurus lalu menghilang arahnya, tak jelas rimbanya.

Ternyata, Bocil tidak main-main. Mahandis Yoanata Thamrin, Managing Chief Editor untuk National Geographic Indonesia sekaligus Intisari Magazine, menghubungiku di pagi hari, sekira pukul 8 pagi. Saat itu suasana pandemi, mengajar masih bisa dilalui dari rumah atau work from home.

"Galih, saya dengar dari Fadhil kamu bisa menulis, coba dong saya lihat tulisan-tulisanmu!" pinta mas Yoan—Mahandis Yoanata Thamrin—lewat saluran telpon. Hanya punya karya ilmiah yang terangkum di Google Cendekia. Sungguh, aku tak terpikirkan menunjukkan tulisan di berandamu, wahai blogku.

Lantas, terdengar kurang puas, mas Yoan memintaku untuk langsung melakukan uji coba: meliput dan menulis untuk Intisari Magazine, untuk edisi Juli 2021. Ia memintaku untuk mempelajari gaya selingkung yang sudah ada dari majalah-majalah edisi sebelumnya.

Tema yang diajukan kala itu, mengusung tentang Cerita Panji. Tepat di hari Minggu—aku lupa tanggalnya—kuajak istriku plesiran singkat. Sekadar berkeliling melihat kembali museum Keraton Kasunanan Surakarta yang sebelumnya hanya dijelajah karena kebutuhan mata kuliah.

Kukeluarkan kocek 70 ribu hanya untuk menggaet pramuwisata. Ia akan jadi guide untuk menjelaskan seluk beluk isi museum keraton. Sebenarnya, banyak hal yang dijelaskan, tapi arah mata dan pikiranku terus mencari dan meraba tentang Wayang Gedog yang akan kukulik mendalam.

Dua pekan dihabiskan untuk merenung dan menyusun seluruh data dari pengalaman baca dan wawancara dengan pramuwisata museum keraton, dan tulisan bertajuk Wayang Gedog: Wayang Istana yang Hampir Sirna selesai juga!

Sampul dan sorotan tentang tulisan pertama di majalah Intisari edisi Juli 2021 yang terbit di Gramedia seluruh Indonesia (Pressreader)


Meski beberapa kali ditegur Mas Yoan karena penggunaan bahasaku yang tak sesuai kaidah—cukup nyesek juga—, tapi secara keseluruhan Mas Yoan menyanjung gagasan dan pola tulisan yang dikandungnya. Benar saja, Intisari Edisi 2021 memuat artikelku! 

Hampir sebulan kemudian, setelah terbitnya Intisari edisi 2021 di seluruh Gramedia se-Indonesia jadi kebanggaanku, Mas Yoan tak kunjung menghubungiku lagi. Aku sempat insecure wahai blogku, padahal sebelumnya aku merasa berhasil bisa menulis di media sebesar Intisari. 

Namun, dari kegusaran itu, tak berapa lama, aku dihubungi kembali Mas Yoan dan memintaku untuk mengisi laman web National Geographic Indonesia! Aku sangat semangat sekaligus antusias untuk memulai segalanya. Ini kan cita terbesar dalam hidup, sejak kecilku! 

Tapi, tunggu dulu. Mas Yoan memintaku untuk mengisi artikel populer dengan kategori teknologi atau dunia astronomi. Aku agak keberatan, karena bagiku itu bukanlah bidangku. Tapi, satu hal yang aku tangkap dan pedomani sampai hari ini. Begini kata mas Yoan:

"Tenang saja Galih, seorang jurnalis sejati akan bisa mengolah rupa tulisannya ke dalam berbagai bentuk. Karena kamu punya data, kamu bisa arahkan itu ke arah yang dituju, termasuk tentang teknologi atau astronomi. Karena, jurnalis adalah seorang yang serba mau tahu dan terusik pada hal apapun."

Benar, sih. Kata orang-orang, kata istriku pun, aku kepo. Ya, K-E-P-O (Know Every Particular Object). Mungkin lucu di permukaan, tapi mendalam di dasarnya. Bagiku, apa salahnya menjadi kepo? Ini hal yang mendasar kan dari seorang jurnalis? 

Sederhananya, para penulis di National Geographic Indonesia adalah manusia-manusia berjiwa kepo. Akhirnya, kutuliskan semua keingintahuanku tentang 'sepak bola' dengan misi: menulis tentang teknologi. Bagaimana? Bisa saja, karena aku KEPO. 

Agak menggelikan memang mengakui itu. Tapi, kubuktikan caraku menulis dari ke-kepo-an itu. Aku selalu bertanya, bagaimana stadion sepak bola dirancang secanggih itu untuk tidak membiarkan air tergenang ketika hujan deras? Teknologi semacam apa yang digunakan?

Bagi kebanyakan, itu hal lumrah, dan mungkin orang-orang tidak berpikir itu sebagai hal penting yang perlu diketahui. Namun bagiku, sekali lagi, hanya untuk memuaskan jiwa keingintahuanku tentang sekelumit cara semesta bekerja.

Terbitlah sebuah artikel berjudul Goodison Park: Stadion Sepak Bola Pertama dengan Teknologi Anti Salju yang bertitimangsa 7 Agustus 2021, jadi artikel keduaku di titik mulai menemukan kenyamanan menulis untuk media massa ini.


***


Tentang dinamika ini, akan kutuliskan lebih lanjut di bagian selanjutnya. Terima kasih, blogku. Senantiasa sedia mendengar seluruh racauku. Kita lanjut nanti yaa ✍️

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Repost: 'Jadi Santri Harus Berani'

"Bukan, hidup bukan tentang lemparan dadu. Tapi peluang-peluang yang mungkin itu diciptakan atas dasar keberanian." Lukisan cat cair Galih Pranata saat menjadi ketua pelaksana Pesantren Kilat di MTsN 1 Pusakanagara (dokumentasi pribadi) M aret 2025 lalu, penerbit merayakan novel bertajuk Bunga di Hari Lalu yang kutulis telah terjual ratusan eksemplar. Di samping itu, Managing Chief Editor National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata Thamrin memberi apresiasi atas produktifitas dalam menulis sejumlah artikel. Kata teman-teman redaksi sih , jumlah artikel yang sudah kuterbitkan selalu berkejaran dengan rekor gol megabintang sepak bola, Cristiano Ronaldo. Di mana telah kuterbitkan 931 artikel sejak Agustus 2021, sedangkan Cristiano telah mencatat 933 gol setelah kemenangan Al Nassr atas Al Riyadh (13/04/2025). Namun, dari sejumlah perayaan yang dinikmati. Hanya rasa syukur yang kembali membawaku pulang pada ingatan masa lewat. Ingatan tentang seorang ini bertumbuh dari sebuah...

PERUBAHAN ITU PERLU

B ertepatan pada hari ahad 17 Juni 2012, saga the revolutioner atau santri ikhwan angkatan 15, resmi melepas keluh kesahnya sebagai santri Husnul Khotimah lewat acara akbar yang di gelar di lapang basket putra ponpes dan di hadiri oleh rekan rekan alumnus, para wali santri, juga sejumlah tamu undangan. Haflatul Ikhtitam. Acara yang berdurasi sekitar 420 menit berlangsung secara efektif dan merupakan acara puncak dari perjalanan panjang yang di lalui oleh STR, pasalnya telah banyak cerita yang di teladani selama hidup 4 sampai 6 tahun menuntut ilmu. Tak heran jika para alumni berderai air mata. semua nya berakhir dengan indah, husnul khotimah. Pecahkan Sejumlah Rekor Mengakhiri masa-masa penuh suka duka,tak luput pula oleh torehan yang dituai para revolutioner 15.

Indonesia Bisa Senyum Lagi?

Masih adakah pejuang bangsa ini? Jauh perjuangan mereka para pahlawan bangsa berkorban habis habisan demi memperjuangkan kemerdekaan negara kaya berdaulat Indonesia. mereka terkubur dalam ketenangan dan darahnya menyuburkan tanah bumi pertiwi. tidak akan pernah tenggelam matahari menyinari tanah ini, sampai pada masanya perjuangan pahlawan negara kembali. lihat negeri kita kini, punya banyak limpahan alam namun hanya sedikit menguntungkan, para pejabat negara yang kerjanya foya foya, akhlak para penerus bangsa yang umurnya habis dibunuh narkoba, yang semangatnya runtuh di hantam kehancuran, hanya menunggu waktu negeri kita hilang di hantam  zaman yang namanya di ambang kehancuran. Bagaimana ini kembali? masih adakah pejuang yang darahnya kembali menyuburkan tanah ini, pejuang yang mengorbankan senyumannya untuk anak cucunya di masa depan nanti? pejuang yang mengusir penjajah penjajah berperut buncit? Biar harapan kami menggantung jauh di atas langit, hanya waktu yang ...

Music