Langsung ke konten utama

Dinamika Perjalanan: Cinta dan Tulisan (bagian 3)

Menulis menjadi jiwaku

Ilustrasi masa peliputan untuk majalah Intisari di keraton Kasunanan Surakarta (ilustrasi oleh Galih Pranata)

Sejak dikaruniai seorang anak pada 6 September 2021, aku mulai menyadari bahwa menulis jadi jiwaku, hidupku dan penghidupan keluargaku. Kuberinama ia: Alhazen, sesuai dengan tokoh yang pernah kutulis, Ibn Al Haytham. 

Sampai pada tahun 2025 ini, semangatku untuk terus menulis di media massa belum pernah padam. Aku terus menulis dan menulis, mengabdikan tiga dasawarsa hidup untuk menuangkan gagasan dan segala kesah kehidupan.

*

Kembali ke tahun 2023 silam, aku bertemu dengan guru-guru hebat yang membawaku pada satu fase terbaik dalam hidupku, membuat buku dan menyeminarkannya di malam yang indah pada 28 Oktober 2023. 

Resah dan kesah sebagai pendidik, aku tuangkan bersama para rekan-rekan guru yang sefrekuensi: gemar menulis. 

Aku jadi rajin membaca banyak literatur tentang pendidikan, sampai bercita menerbitkan buku perdana tentang pendidikan: Rerasan Guru Berkisah Pendidikan. 

Buku antologi esai ini rilis pada 17 Agustus 2023 yang berisi 144 halaman, terdiri 25 judul dari lima penulis berlatar para pengajar. 

Aku bersama Anjar Miska Prayoga (Guru Ekonomi), Anggitya Alfiansari (Guru Bahasa Indonesia), Wiwit Maharesti (Guru Sosiologi) yang semuanya merupakan guru di SMA Al Islam 1 Surakarta. Satu penulis lagi adalah Ria Indra Maya Sari (Guru SD) yang merupakan istri dari pak Anjar.

Dalam antologi ini, aku mengisi 11 judul esai. Wahai blogku, aku senang sekali bisa menyuarakan isi pikiranku tentang pendidikan, tentang semangat dan motivasi hingga kritik yang berarti. 

Aku bawakan narasi-narasi yang jarang dimunculkan, seperti tokoh luar biasa Willem Iskander yang hilang tenggelam dimakan waktu. 

Atau tokoh pendiri Al Islam di Sala yang giat menulis dan berdakwah hingga mendirikan sekolah sendiri yang kemudian jadi sekolah tempatku mengajar (SMA Al Islam 1 Surakarta), Kiai Ghozali.

Sampai pada akhirnya, dipandu oleh Jonanda Fattah Anugerah, bersama dengan dua penulis lain, Anjar dan Anggitya, aku mengajak Indah dan Hazen (anakku), hadir di malam yang terkesan, menyeminarkan 'Buku Rerasan' di Warung Sastra, Yogyakarta pada 28 Oktober 2023! 

Rerasan Guru Berkisah Pendidikan diseminarkan di Warung Sastra pada 28 Oktober 2023. (Instagram/ Warung Sastra)

Sampai pada satu kesempatan dalam hidupku, aku mulai mengenal dunia sastra. Gubahan HAMKA hingga Pramoedya telah mengisi separuh jiwaku. Nafasku kini sudah berisi diksi, kepalaku sudah memuat banyak narasi, aku jadi bocah sastra sejak mengenal tulisan mereka. 

Aku dibawa ke perlembahan cinta yang rumit dari novel tetralogi Buru karya Pram. Cinta Minke yang tak bertepi, selalu gagal dalam bahtera rumah tangganya. Dengan Annelies Mellema, Ang San Mei, hingga Prinses van Kasiruta yang tak mulus jalannya.

H. Abdul Malik Karim Amrullah juga menulis karya sastra yang istimewa, Tenggelamnya Kapal van der Wijck yang memesona. Aku terlarut pada diksi melayu lama yang sarat akan makna. Luhur gaya bahasanya, dan teguh nilai keislamannya. 

Semua itu membawaku pada satu tahapan tersulit yang pernah aku alami. Ketika pak Rudy Wicaksono Herlambang (dosen DKV UNS) yang sering kali memintaku membantu untuk menuliskan jurnal ilmiah, aku mulai merasa kesulitan. 

Aku menjadi sulit untuk membedakan caraku menggubah tulisan sastrawi dengan menulis ilmiah, musabab diksi yang menurutku sama sekali berbeda. 

Hidupku dipenuhi dengan adegan demi adegan dari penggambaran dalam jengkalan imajinasiku. Setiap perjalanan menjadi sendu, lanskap alam merayu-rayu, mengajakku membayangkan untai narasi dari alam kalbu. 


Potret yang diambil pada pertengahan 2024 oleh Jonanda Fattah Anugerah di Klaten (Jonanda Fattah Anugerah)

Menulis ilmiah hanya perlukan pada kemampuan analisis yang ditunjang dengan metodologi untuk perolehan data dan penyusunannya. Paradigma mana yang dipilih, keakuratan data jadi kekuatan utama. 

Sedang narasi sastrawi lebih melibatkan perasaan dan kejujuran bercerita. Pikiranku yang ilmiah dulu, berganti menjadi pikiran yang penuh dengan kisah-kisah, perasaan mengintervensi seluruh isi kepala. 

Wahai blogku, inilah aku yang sekarang. Bocah setengah sastra dan setengah ilmiah. Berpikir saintifik, tapi gaya bahasanya populer. Aku sampai pada titik yang amat bingung untuk menemukan identitas dalam tulisanku sendiri. 

Maka dari situ, aku mulai memohonkan maaf sebesar-besarnya kepada pak Rudy yang sempat kutolak tempo lalu karena tidak bisa membantunya menulis jurnal ilmiah. 

Bukan berarti aku tak mau, hanya merasa sedang tak mampu. Betapa pikiranku hanya bersandar pada diksi yang sudah bertentangan dengan kaidah kebahasaan tulisan ilmiah. 

Aku dipindah tugaskan setelah menerima SK sebagai ASN (PPPK) sejak Mei 2024 ke SMA Negeri 1 Klaten. Mulai saat itu, aku mengarungi kehidupan yang baru. Keluar dari lingkungan lama yang nyaman dan menunjangku menulis banyak hal. 

Pada permulaannya, aku belum berhasil move on dari kehidupan sebelumnya. Lebih berlama-lama di perpustakaan untuk mencari buku Pram yang bisa kutamatkan. Aku menyelesaikan Jejak Langkah dan Rumah Kaca yang memberikanku banyak insight.

Maka dari pelbagai kegamangan ini, aku mulai memberanikan diri, menuruti ritme hati, untuk menulis yang disenangi. Aku upaya menggubah sebuah novel: Bunga di Hari Lalu.

*

Bunga di Hari Lalu adalah letupan perasaan yang bersarang sedemikian lama dalam dada. Tumbuh subur seraya dengan bertambahnya usia dan pengalaman, menjadikannya sebagai pelampiasan cerita yang dialami dari pengalaman hidup maupun wawasan yang dipunyai. 

Soediro adalah seorang malang yang nestapa persoalan cinta. Sedikit banyak dari perjalanan hidupku yang tak mudah menggenggam cinta yang kuharap dan kubayangkan. 

Kugambarkan kesulitannya sedemikian rumit, selaiknya kehidupan yang penuh dengan sentimen rasial di zaman Hindia Belanda. Kesulitan seorang Jawa yang menerima takdirnya mencinta wanita berketurunan Eropa. Sebuah zaman yang sering kubacai berulang waktu. 

Dia adalah seorang yang sejati untuk mencinta, dan tekun pada apa yang dicinta. Termasuk disaat dia beruapaya meraih citanya untuk menulis, meski latar hidupnya seorang guru. Siapa lagi inspirasinya? Barangkali yang membaca tulisan ini akan kenal sosok itu. 

Sampul novel roman Bunga di Hari Lalu (Dania Cita Respati/Kompasiana)

Prilie Chrisnade von Deleph adalah penggambaran cinta yang ideal. Idealisme masa muda bagi semua laki-laki. Bukan perihal paras atau ras, tapi keayuan dan keanggunan yang bersemayam dalam jiwanya. Tapi, dialah impian, tak ubahnya suatu hal yang dikejar, namun sulit untuk digapai.

Bagi yang seorang ini, Bunga di Hari Lalu adalah proyek idealis dan kejujuran di tengah kemelut perubahan status dalam hidupku. Sama-sama guru, tapi beda nasib. Beda rintang yang melintang, aral yang kuterjang sebegitu kerasnya. 

Bersinggah ke tempat yang dingin dan sulit terjamah olehku. Sulit menemukan kenyamanan meski sebegitu lamanya. Aku seperti belum mendapat rumah, tapi setidaknya Bunga di Hari Lalu jadi perantara cerita hidupku. 

***




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Repost: 'Jadi Santri Harus Berani'

"Bukan, hidup bukan tentang lemparan dadu. Tapi peluang-peluang yang mungkin itu diciptakan atas dasar keberanian." Lukisan cat cair Galih Pranata saat menjadi ketua pelaksana Pesantren Kilat di MTsN 1 Pusakanagara (dokumentasi pribadi) M aret 2025 lalu, penerbit merayakan novel bertajuk Bunga di Hari Lalu yang kutulis telah terjual ratusan eksemplar. Di samping itu, Managing Chief Editor National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata Thamrin memberi apresiasi atas produktifitas dalam menulis sejumlah artikel. Kata teman-teman redaksi sih , jumlah artikel yang sudah kuterbitkan selalu berkejaran dengan rekor gol megabintang sepak bola, Cristiano Ronaldo. Di mana telah kuterbitkan 931 artikel sejak Agustus 2021, sedangkan Cristiano telah mencatat 933 gol setelah kemenangan Al Nassr atas Al Riyadh (13/04/2025). Namun, dari sejumlah perayaan yang dinikmati. Hanya rasa syukur yang kembali membawaku pulang pada ingatan masa lewat. Ingatan tentang seorang ini bertumbuh dari sebuah...

PERUBAHAN ITU PERLU

B ertepatan pada hari ahad 17 Juni 2012, saga the revolutioner atau santri ikhwan angkatan 15, resmi melepas keluh kesahnya sebagai santri Husnul Khotimah lewat acara akbar yang di gelar di lapang basket putra ponpes dan di hadiri oleh rekan rekan alumnus, para wali santri, juga sejumlah tamu undangan. Haflatul Ikhtitam. Acara yang berdurasi sekitar 420 menit berlangsung secara efektif dan merupakan acara puncak dari perjalanan panjang yang di lalui oleh STR, pasalnya telah banyak cerita yang di teladani selama hidup 4 sampai 6 tahun menuntut ilmu. Tak heran jika para alumni berderai air mata. semua nya berakhir dengan indah, husnul khotimah. Pecahkan Sejumlah Rekor Mengakhiri masa-masa penuh suka duka,tak luput pula oleh torehan yang dituai para revolutioner 15.

Indonesia Bisa Senyum Lagi?

Masih adakah pejuang bangsa ini? Jauh perjuangan mereka para pahlawan bangsa berkorban habis habisan demi memperjuangkan kemerdekaan negara kaya berdaulat Indonesia. mereka terkubur dalam ketenangan dan darahnya menyuburkan tanah bumi pertiwi. tidak akan pernah tenggelam matahari menyinari tanah ini, sampai pada masanya perjuangan pahlawan negara kembali. lihat negeri kita kini, punya banyak limpahan alam namun hanya sedikit menguntungkan, para pejabat negara yang kerjanya foya foya, akhlak para penerus bangsa yang umurnya habis dibunuh narkoba, yang semangatnya runtuh di hantam kehancuran, hanya menunggu waktu negeri kita hilang di hantam  zaman yang namanya di ambang kehancuran. Bagaimana ini kembali? masih adakah pejuang yang darahnya kembali menyuburkan tanah ini, pejuang yang mengorbankan senyumannya untuk anak cucunya di masa depan nanti? pejuang yang mengusir penjajah penjajah berperut buncit? Biar harapan kami menggantung jauh di atas langit, hanya waktu yang ...

Music