Langsung ke konten utama

Repost: 'Jadi Santri Harus Berani'

"Bukan, hidup bukan tentang lemparan dadu. Tapi peluang-peluang yang mungkin itu diciptakan atas dasar keberanian."

Lukisan cat cair Galih Pranata saat menjadi ketua pelaksana Pesantren Kilat di MTsN 1 Pusakanagara (dokumentasi pribadi)

Maret 2025 lalu, penerbit merayakan novel bertajuk Bunga di Hari Lalu yang kutulis telah terjual ratusan eksemplar. Di samping itu, Managing Chief Editor National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata Thamrin memberi apresiasi atas produktifitas dalam menulis sejumlah artikel. Kata teman-teman redaksi sih, jumlah artikel yang sudah kuterbitkan selalu berkejaran dengan rekor gol megabintang sepak bola, Cristiano Ronaldo. Di mana telah kuterbitkan 931 artikel sejak Agustus 2021, sedangkan Cristiano telah mencatat 933 gol setelah kemenangan Al Nassr atas Al Riyadh (13/04/2025).

Namun, dari sejumlah perayaan yang dinikmati. Hanya rasa syukur yang kembali membawaku pulang pada ingatan masa lewat. Ingatan tentang seorang ini bertumbuh dari sebuah tempat. Yang menempa, yang membentuk: Pondok Pesantren Husnul Khotimah.

Barangkali, pesantren hanya mengingatkan orang-orang pada lulusannya yang pandai memimpin tarawih, menjadi katib, atau menjadi guru mengaji. Kukira lebih dari itu. Enam tahun lamanya ditempa dan dibentuk telah menjadikan segenap santri untuk beroleh banyak pemahaman dan kemampuan lain. Salah satunya menulis.

Aku meyakini, Majalah Akyas yang telah berhasil mendorongku mampu menjadi seperti sekarang. Sejumlah hasil tulisan kelas XI Aliyah dulu saat tergabung sebagai editor majalah santri, terlihat cukup lugu dengan gaya bahasa yang serampangan.

Itulah yang membuat seseorang bertumbuh, belajar dan terus belajar. Entah bagaimana tulisan yang baik di zaman itu pun aku tak mengerti. Namun, yang kuyakini agar terampil menulis adalah dengan banyak membaca dan terus menulis. Seperti adagium Kuntowijoyo: “syarat menjadi penulis itu ada tiga: menulis, menulis, dan menulis.”

Satu pendapat yang paling masuk akal dari seorang rekan seperjuangan di angkatan 13—Ustaz Sulaeman mengenal angkatan kami dengan nama: SAGA, Satu Tiga—Ash-Shiddiq adalah "untuk dapat berhasil mencapai cita-cita, maka haruslah berani. Karenanya, yakinlah bahwa menjadi Santri Harus Berani!"

Bagi kebanyakan, mungkin hal biasa bisa menjadi juara Cimareunteun Cup (turnamen sepak bola se-wilayah III) pada tahun 2011 silam. Namun, berkat modal keyakinan yang kukuh, kerja keras, dan “keberanian”, setiap aralnya pasti akan dengan mudah diterjang. Pak Dede, pelatih tim sepak bola Husnul Khotimah 2010-2011 (Goodend akrabnya) selalu menanamkan pada anak asuhnya, “Ayo maju dulu, penting mah berani!”


Potret tim sepak bola Husnul Khotimah yang menjuarai Cimarenteun Cup 2011 (dokumentasi pribadi)

Tidak ada kata lain selain berani. Berani menjadi modal untuk setiap keluarbiasaan yang dikandung dari berbagai peristiwa, yang tak mungkin sekalipun. Divisi Media dan Jurnal (dari Organisasi Santri Husnul Khotimah—OSHK) beserta Tim Akyas, misalnya. Dengan kenekatan Ash-Shiddiq sebagai pemimpin redaksi sekaligus ketua divisi demi menjalankan programnya, memberi tugas untuk mulai dari mencari pinjaman mobil, melakukan perhubungan dengan pihak Transmedia, hingga perizinan pada pesantren. Alhasil, segenap kru bisa observasi secara langsung ke Gedung Transmedia untuk belajar langsung, lebih banyak tentang dunia broadcasting dengan segala keterbatasan kami sebagai santri.

Orang bilang, “ah, itu mah privilese.” Atau, “ah, lagi beruntung aja.”

Bukan, hidup bukan tentang lemparan dadu. Tapi peluang-peluang yang mungkin itu diciptakan atas dasar keberanian. Keberanian seseorang untuk melangkah maju, menjemput, hingga berkeras diri dalam mewujudkannya. Maka, dari serangkaian keterampilan para santri yang 'mondok' selama bertahun-tahun, tiada berarti jika tak kunjung menanamkan dalam dirinya rasa berani. Berani untuk maju dan berkembang.

Sampai pada pertemuanku dengan Tere Liye yang berkunjung ke gedung yang dulunya bernama Darul Arqom kala memberikan pelatihan kepenulisan di tahun 2011. Saat mengantarnya ke Hotel Sangkan dan hendak berpamitan, ada kata-kata yang masih teringat. Tere Liye menanya padaku tentang kelanjutan studi. Lantas kuletupkan keberanian untuk mengatakan: “Kalau nanti tidak keturutan jadi kuliah di UI seperti anda, saya mau berhasil jadi penulis seperti anda.” Tere Liye mengedik dan mengamininya.

Boleh jadi semua hamparan mimpi itu tak berhasil diwujudkan. Jadi mahasiswa Universitas Indonesia adalah bagian mimpi yang tidak terlaksana—sejauh ini. Namun, keberanian itu harus terus ada untuk mewujudkan cita yang satunya lagi: berhasil menjadi penulis.

Belum sama sekali bisa dikatakan berhasil. Masih banyak alumni Husnul Khotimah yang sudah menerbitkan buku-buku best seller hingga ditayangkan ke layar lebar, seperti kak Nusaibah Azzahra, hingga adik kelas, Edgar Hamas. Tapi, percayalah jika dengan keberanian yang telah dipupuk lama, akan mendorong kita pada kemungkinan-kemungkinan tanpa batas. Menulis, dan menulis.

Hingga pada tahun-tahun setelah pandemi, mulai kuselesaikan beberapa tulisan dan membulatkan tekad untuk berani mengirimkan naskah pada penerbit-penerbit, mulai berani membangun relasi dengan sesama penulis demi terus belajar. Membungkus rasa minder dan berani menjelang hal-hal baru untuk dihadapi.

Meminjam adagium liyan dari Martin Luther jr., yang sedikit banyaknya berbilang: untuk mencapai tempat yang tinggi, tak perlu melihat keseluruhan anak tangga yang begitu berjenjang. Kamu hanya perlu memulainya, menaiki langkah demi langkah. 

Maka, jadikan momen selama menjadi santri sebagai ajang untuk belajar. Belajar berani dan berani belajar.

***

Tulisan ini merupakan unggahan ulang dari laman: https://husnulkhotimah.sch.id/jadi-santri-harus-berani.html dengan judul serupa yang terbit pada 15 Agustus 2025.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERUBAHAN ITU PERLU

B ertepatan pada hari ahad 17 Juni 2012, saga the revolutioner atau santri ikhwan angkatan 15, resmi melepas keluh kesahnya sebagai santri Husnul Khotimah lewat acara akbar yang di gelar di lapang basket putra ponpes dan di hadiri oleh rekan rekan alumnus, para wali santri, juga sejumlah tamu undangan. Haflatul Ikhtitam. Acara yang berdurasi sekitar 420 menit berlangsung secara efektif dan merupakan acara puncak dari perjalanan panjang yang di lalui oleh STR, pasalnya telah banyak cerita yang di teladani selama hidup 4 sampai 6 tahun menuntut ilmu. Tak heran jika para alumni berderai air mata. semua nya berakhir dengan indah, husnul khotimah. Pecahkan Sejumlah Rekor Mengakhiri masa-masa penuh suka duka,tak luput pula oleh torehan yang dituai para revolutioner 15.

Indonesia Bisa Senyum Lagi?

Masih adakah pejuang bangsa ini? Jauh perjuangan mereka para pahlawan bangsa berkorban habis habisan demi memperjuangkan kemerdekaan negara kaya berdaulat Indonesia. mereka terkubur dalam ketenangan dan darahnya menyuburkan tanah bumi pertiwi. tidak akan pernah tenggelam matahari menyinari tanah ini, sampai pada masanya perjuangan pahlawan negara kembali. lihat negeri kita kini, punya banyak limpahan alam namun hanya sedikit menguntungkan, para pejabat negara yang kerjanya foya foya, akhlak para penerus bangsa yang umurnya habis dibunuh narkoba, yang semangatnya runtuh di hantam kehancuran, hanya menunggu waktu negeri kita hilang di hantam  zaman yang namanya di ambang kehancuran. Bagaimana ini kembali? masih adakah pejuang yang darahnya kembali menyuburkan tanah ini, pejuang yang mengorbankan senyumannya untuk anak cucunya di masa depan nanti? pejuang yang mengusir penjajah penjajah berperut buncit? Biar harapan kami menggantung jauh di atas langit, hanya waktu yang ...

Music