Langsung ke konten utama

Dinamika Perjalanan: Cinta dan Tulisan (bagian 1)

Sudah sekian lama, ya. 

Jika saja blog ini sebuah buku, pasti sampulnya sudah dipenuhi debu. 

Fotoku di Malioboro sekira medio 2015 (dokumentasi pribadi)

Aku ingin sekali meminta maaf padamu, blog lama ku. 

Tau kau, wahai blogku?

Hari ini, sudah tahun 2023, di mana aku meninggalkan kegemaranku menulis di blog ini sejak 2012 silam. Ya, hampir 11 tahun sudah. Bilalah barang elektronik, mati sudah mesinnya, tak pernah dihidupkan barang semenit. 

Dalam kepergian sementara ku itu, aku melalui banyak dinamika perjalanan. Perjalanan panjang di mana aku meniti kehidupan yang lebih nyata, aral yang berarti, dari suka duka yang kulalui, hingga menemukan tambatan hati.

Hilang sudah kegalauan cinta darah pemuda, sudah berganti menjadi "jiwa sang ayah" entah sejak kapan. Mungkin saja sejak beristri, dan miliki anak satu. Yang jelas, tahun 2023 adalah waktu yang cukup panjang untuk mengisahkan banyak hal yang aku lewati.

***

Terakhir kali menghias blog ini, hidupku di kelilingi di antara berantakannya kamar seorang bujang, di mana sesekali aku menyeruput teh milik ibu yang kadang sudah tak panas lagi. Blog yang auranya berwarna merah, warnanya menyala bak semangat usiaku waktu itu, anak muda. Kini mulai memudar dan pias.

Kondisi kamar di Asrama Mahasiswa UNS, menyiratkan kehidupan masa muda
(dokumentasi pribadi)

Jika aku bisa berdialog dengan kau, wahai blogku, sudah terlihat pucat pias warnamu. Aku sudah belajar banyak hal, menulis dan menghias blog lain yang warnanya lebih mentereng darimu. Nama dan wujudnya mudah ditelusur di jejak mesin pencarian, tak seperti nasibmu. Blog kecilku nun malang.

Ya, aku ingin ceritakan pada kau. Sejak kuliah 2013 lalu, aku pergi meninggalkan kota masa kecilku, dari Subang menuju Solo untuk berkuliah Sarjana Pendidikan Sejarah UNS. Dari situ, hidupku disibukkan dengan tugas kuliah dan kegemaran anak muda yang lebih banyak keluar kos dan cari tau banyak hal.

Aku berjumpa dengan sahabat-sahabat terbaikku, Nabil, Akbar, Zaky, Imam, Sabiq, Ramiz, Abudzar, Fadhil, Natsir, Jabe, Hasan, Albert, Fatoni, Manggara, dan banyak sahabat yang lainnya. Mereka mengisi hari-hariku, malam-malam khas anak muda yang sulit dilupakan tentunya.

Di bangku kuliah, aku belajar sejarah waktu itu, barang sedikit aku mulai terusik dengan hal-hal bernuansa kuno dan klasik. Namun, tak terpikirnya aku mengisahkan hal-hal menarik itu untuk menggurat pena ditubuhmu, wahai blogku.

Perjalananku semakin berliku, aku bertemu Indah, yang kemudian jadi kekasih hatiku. Ia manis, persis seperti bunga yang mekar sekaligus di hatiku. Kulitnya kuning langsap, aku benar jatuh hati padanya, Aku ceritakan bahwa aku gemar menulis, tapi aku menulis padanya, bukan padamu, wahai blogku.

Ku kirimkan untaian puisi yang tak jelas diksinya, tak keruan rimanya, setidaknya kutunjukkan jika aku punya usaha, kutunjukkan nyaliku padanya, aku benar mencintainya. Tak sempat lagi ku buka laman webmu, barangkali aku lupa username dan password-nya, entahlah.  Sedikitnya aku acuh padamu, wahai blogku. 

Sampai aku disibukkan dengan urusan BEM Universitas dan Himpunan Mahasiswa Prodi Ganesha (Pendidikan Sejarah UNS) demi kegemaran berorganisasi, lamanmu sudah ku lupa kala itu.

Oh iya, aku lupa, dirimu sempat ku butuhkan waktu diminta tugas kuliah oleh dosen pengampu "Sejarah Asia Selatan." Tapi aku malu, wahai blogku, tulisan itu tak jelas pranalanya dan kebanyakan kepunyaan orang. Tak lagi ku hias dirimu dengan gagasan otentikku.

***

2016, aku lulus jua setelah menuntaskan skripsi yang pernuh dengan halau rintang. Retorika dan dialektika sepanjang konsul bimbingan dikedepankan. Aku jumud sudah. Hampir tersita 2 tahun sudah waktuku untuk selesaikan skripsi itu, demi beroleh gelar Sarjana Pendidikan.

Sidang skripsi didampingi kekasih, Indah (dokumentasi Albert Niko Wijaya).

Selepas lulus itu, aku masuk ke era "kepenulisan gaya baru," sebutku. Era di mana aku di ajarkan untuk menulis hal naratif bersifat ilmiah, penuh dengan kutipan dan bahasan. Ya, bu Nadia, dosen UNS (kini sudah dosen PNS di UNNES) yang mengajariku tentang menulis jurnal ilmiah.

Dari situ, aku sudah punya pandangan lain tentang dunia kepenulisan dan gaya jurnalisme ku sendiri. Aku menghias platform OJS (Open Journal System) dengan berbagai akreditasinya, mulai dari yang hanya ber-ISSN saja, hingga Sinta 2 pernah ku terbitkan tulisanku. Sudah tak terpikirkan aku tentangmu, wahai blogku.

Sampai aku berminat untuk mencari tau tentang hal-hal kesejarahan yang lebih mendalam. Kuteruskan sekolahku ke jenjang Pascasarjana di prodi yang sama dan kampus yang sama, S2 Pendidikan Sejarah Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Aku bertemu Ganda dan Robit, dua penulis dengan diksi mereka yang khas di setiap untai narasi tulisannya. Hal itu mencerahkanku, menggairahkanku, menantangku untuk menulis dengan caraku. Aku harus lebih bisa dari mereka.

Robit sudah terbiasa menerbitkan buku, dan meledak di pasaran. Sedang, Ganda, penulis blog dan jurnal ilmiah dengan pemikirannya yang terbuka. Aku silau bukan apa yang mereka punya persoalan kebendaan, tapi silau dengan karya-karyanya.

Kelasku bak gelanggang pemikiran. Aku bersyukur bisa bersua dan belajar bersama. Sampai aku beroleh gelar magister, yang bagiku hanya perolehan apresiasi karena sekolah saja. Lebih dari itu, aku peroleh keberanian untuk berpikir kritis dan berani bersuara lewat tulisan, ini yang terpenting.

Bagian terbaiknya masih ada dalam postingan berikutnya, agar tak terlalu bosan dibaca. Ku lanjutkan nanti ya, wahai blogku..

***

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Repost: 'Jadi Santri Harus Berani'

"Bukan, hidup bukan tentang lemparan dadu. Tapi peluang-peluang yang mungkin itu diciptakan atas dasar keberanian." Lukisan cat cair Galih Pranata saat menjadi ketua pelaksana Pesantren Kilat di MTsN 1 Pusakanagara (dokumentasi pribadi) M aret 2025 lalu, penerbit merayakan novel bertajuk Bunga di Hari Lalu yang kutulis telah terjual ratusan eksemplar. Di samping itu, Managing Chief Editor National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata Thamrin memberi apresiasi atas produktifitas dalam menulis sejumlah artikel. Kata teman-teman redaksi sih , jumlah artikel yang sudah kuterbitkan selalu berkejaran dengan rekor gol megabintang sepak bola, Cristiano Ronaldo. Di mana telah kuterbitkan 931 artikel sejak Agustus 2021, sedangkan Cristiano telah mencatat 933 gol setelah kemenangan Al Nassr atas Al Riyadh (13/04/2025). Namun, dari sejumlah perayaan yang dinikmati. Hanya rasa syukur yang kembali membawaku pulang pada ingatan masa lewat. Ingatan tentang seorang ini bertumbuh dari sebuah...

PERUBAHAN ITU PERLU

B ertepatan pada hari ahad 17 Juni 2012, saga the revolutioner atau santri ikhwan angkatan 15, resmi melepas keluh kesahnya sebagai santri Husnul Khotimah lewat acara akbar yang di gelar di lapang basket putra ponpes dan di hadiri oleh rekan rekan alumnus, para wali santri, juga sejumlah tamu undangan. Haflatul Ikhtitam. Acara yang berdurasi sekitar 420 menit berlangsung secara efektif dan merupakan acara puncak dari perjalanan panjang yang di lalui oleh STR, pasalnya telah banyak cerita yang di teladani selama hidup 4 sampai 6 tahun menuntut ilmu. Tak heran jika para alumni berderai air mata. semua nya berakhir dengan indah, husnul khotimah. Pecahkan Sejumlah Rekor Mengakhiri masa-masa penuh suka duka,tak luput pula oleh torehan yang dituai para revolutioner 15.

Indonesia Bisa Senyum Lagi?

Masih adakah pejuang bangsa ini? Jauh perjuangan mereka para pahlawan bangsa berkorban habis habisan demi memperjuangkan kemerdekaan negara kaya berdaulat Indonesia. mereka terkubur dalam ketenangan dan darahnya menyuburkan tanah bumi pertiwi. tidak akan pernah tenggelam matahari menyinari tanah ini, sampai pada masanya perjuangan pahlawan negara kembali. lihat negeri kita kini, punya banyak limpahan alam namun hanya sedikit menguntungkan, para pejabat negara yang kerjanya foya foya, akhlak para penerus bangsa yang umurnya habis dibunuh narkoba, yang semangatnya runtuh di hantam kehancuran, hanya menunggu waktu negeri kita hilang di hantam  zaman yang namanya di ambang kehancuran. Bagaimana ini kembali? masih adakah pejuang yang darahnya kembali menyuburkan tanah ini, pejuang yang mengorbankan senyumannya untuk anak cucunya di masa depan nanti? pejuang yang mengusir penjajah penjajah berperut buncit? Biar harapan kami menggantung jauh di atas langit, hanya waktu yang ...

Music