Pemuda - Pemuda Sejati
The True Story
Negeri ini punya banyak pemuda pemuda islam dengan berbagai karakteristik tertentu, namun banyak diantara mereka yang tidak perah menjadi contoh atau teladan karena banyaknya kerusakan moral dan kehancuran mental, Negeri ini masih mencari pemuda sejati.
Kisah berikut semoga bisa menjadi pelajaran berharga bagi
kita. Kisah ini akan memberi gambaran kepada kita Bagaimana sesunggunya
karakteristik ideal dari seorang pemuda. Dari cerita berikut setidaknya kita
akan mendapat ibroh tentang Ketaatan kepada Allah Swt, rasa Tanggung Jawab,
Kepedulian, serta Persaudaraan. Berikut penggalan kisahnya:
Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah tempat yang
ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti di tempat itu untuk beristirahat
sejenak. Pemuda itu kemudian duduk di bawah pohon. Karena terlalu lelah,
akhirnya ia tertidur lelap. Saat ia tidur, tali untanya lepas, sehingga unta
itu pergi ke sana ke mari. Akhirnya, unta itu masuk ke kebun yang ada di dekat
situ. Unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan di dalam kebun. Unta itu
juga merusak segala yang dilewatinya.
Penjaga kebun adalah seorang kakek tua. Sang kakek berusaha
mengusir unta itu, namun ia tidak bisa. Karena khawatir unta itu akan merusak
seluruh kebunnya, sang kakek pun membunuhnya. Ketika bangun, pemuda itu mencari
untanya. Ternyata, ia menemukan unta itu telah tergeletak mati dengan leher
menganga di dalam kebun.
Pada saat itu, seorang kakek datang. Pemuda itu bertanya,
"Siapa yang membunuh unta miliku ini?" sang Kakek lalu menceritakan
apa yang telah dilakukan oleh unta itu. Karena kuatir akan merusak seluruh isi
kebun, maka sang kakek terpaksa membunuhnya. Mendengar hal itu, sang pemuda tak
kuasa menahan amarahnya. Saking emosinya, Serta-merta ia memukul kakek penjaga
kebun itu. Naasnya, kakek itu meninggal seketika. Pemuda itu amat menyesal atas
apa yang diperbuatnya. Pada saat yang bersamaan, datanglah dua orang pemuda
yang merupakan anak dari sang kakek tadi. Mengetahui ayahnya telah tergeletak
tidak bernyawa dan disebelahnya berdiri pemuda itu, mereka lalu menangkapnya.
Kemudian, keduanya membawa sang pemuda menghadap Amirul Mukminin; Khalifah Umar
bin Khattab RA.
Mereka berdua menuntut dilaksanakan qishash (hukum bunuh)
kepada pemuda yang telah membunuh ayah mereka. Lalu, Umar bertanya kepada sang
pemuda. Pemuda itu mengakui perbuatannya. Ia benar-benar menyesal atas apa yang
telah dilakukannya
Umar lalu berkata, "Aku tidak punya pilihan lain
kecuali melaksanakan hukum Allah terhadapmu," sang pemuda dengan lapang
dada menerima keputusan tersebut. Ia kemudian meminta kepada Khalifah Umar,
agar diberi waktu dua hari untuk pulang ke kampungnya, sehingga dia bisa
berpamitan kepada keluarga serta bisa membayar hutang-hutangnya. Umar kemudian
berkata, "Hadirkan padaku orang yang menjamin, bahwa kau akan kembali lagi
kesini. Jika kau tidak kembali, orang itu yang akan diqishash sebagai ganti
dirimu." Pemuda itupun menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, Aku orang
asing di negeri ini, aku tidak bisa mendatangkan seorang penjamin."
Salah seorang sahabat mulia, ABU DZAR AL-GHIFARI RA (yang
ketika itu usianya terkatagori masih muda) secara kebetulan hadir di majlis
tersebut. Beliau kemudian berkata, "Hai Amirul Mukminin, ini kepalaku, aku
berikan kepadamu jika pemuda ini tidak datang lagi setelah dua hari."
Dengan terkejut, Umar berkata, “Apakah kau yang menjadi penjaminnya, wahai Abu
Dzar, sahabat Rasulullah?," "Benar, ya Amirul Mukminin," jawab
Abu Dzar lantang.
Pada hari yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan hukuman
qishah, orang-orang penasaran menantikan datangnya pemuda itu. SANGAT
MENGEJUTKAN! Dari jauh sekonyong-konyong mereka melihat pemuda itu datang
dengan memacu kudanya. Sampai akhirnya, dia tiba di tempat pelaksanaan hukuman.
Orang-orang memandangnya dengan takjub. Umar bertanya kepada pemuda itu,
"Mengapa kau kembali lagi ke sini Anak Muda, padahal kau bisa
menyelamatkan diri dari maut?" Pemuda itu menjawab, "Wahai Amirul
Mukminin, aku datang ke sini agar jangan sampai orang-orang berkata, 'tidak ada
lagi pemuda yang menepati janji di kalangan umat Ini'. Dan agar orang-orang
tidak mengatakan, 'tidak ada lagi Pemuda sejati nan kesatria yang berani
mempertanggungjawabkan perbuatannya di kalangan umat ini"

Lalu, Umar melangkah ke arah
Abu Dzar Al-Ghiffari dan
berkata, "Dan kau wahai Abu Dzar, bagaimana kau bisa mantap menjamin
pemuda ini, padahal kau tidak kenal dengan pemuda ini?" Abu Dzar menjawab,
"Aku lakukan itu agar orang-orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi
Pemuda jantan yang bersedia berkorban untuk saudaranya seiman dalam umat ini."
Dari kisah tersebut telah jelas bahwa seorang pemuda sejati adalah para pemuda yang berjiwa besar. masih adakah di negeri ini para pemuda ideal (sejati)? kami masih menunggu dan mencari [ ].
Sumber : kisah kisah sejati - Story From Flashdisk 8GB Ammar Yassir

Komentar
Posting Komentar