Langsung ke konten utama

Kisah Teladan


Pemuda - Pemuda Sejati
The True Story


Negeri ini punya banyak pemuda pemuda islam dengan berbagai karakteristik tertentu, namun banyak diantara mereka yang tidak perah menjadi contoh atau teladan karena banyaknya kerusakan moral dan kehancuran mental, Negeri ini masih mencari pemuda sejati.
Kisah berikut semoga bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita. Kisah ini akan memberi gambaran kepada kita Bagaimana sesunggunya karakteristik ideal dari seorang pemuda. Dari cerita berikut setidaknya kita akan mendapat ibroh tentang Ketaatan kepada Allah Swt, rasa Tanggung Jawab, Kepedulian, serta Persaudaraan. Berikut penggalan kisahnya:
Pada Zaman Khalifah Umar Bin Khattab RA, ada seorang pemuda yang berencana untuk melakukan perjalanan jauh. Dia mempersiapkan segala perbekalannya, termasuk unta yang akan digunakan sebagai kendaraannya.
Di tengah perjalanan, ia menemukan sebuah tempat yang ditumbuhi rumput hijau nan segar. Dia berhenti di tempat itu untuk beristirahat sejenak. Pemuda itu kemudian duduk di bawah pohon. Karena terlalu lelah, akhirnya ia tertidur lelap. Saat ia tidur, tali untanya lepas, sehingga unta itu pergi ke sana ke mari. Akhirnya, unta itu masuk ke kebun yang ada di dekat situ. Unta itu memakan tanam-tanaman dan buah-buahan di dalam kebun. Unta itu juga merusak segala yang dilewatinya.
Penjaga kebun adalah seorang kakek tua. Sang kakek berusaha mengusir unta itu, namun ia tidak bisa. Karena khawatir unta itu akan merusak seluruh kebunnya, sang kakek pun membunuhnya. Ketika bangun, pemuda itu mencari untanya. Ternyata, ia menemukan unta itu telah tergeletak mati dengan leher menganga di dalam kebun.
Pada saat itu, seorang kakek datang. Pemuda itu bertanya, "Siapa yang membunuh unta miliku ini?" sang Kakek lalu menceritakan apa yang telah dilakukan oleh unta itu. Karena kuatir akan merusak seluruh isi kebun, maka sang kakek terpaksa membunuhnya. Mendengar hal itu, sang pemuda tak kuasa menahan amarahnya. Saking emosinya, Serta-merta ia memukul kakek penjaga kebun itu. Naasnya, kakek itu meninggal seketika. Pemuda itu amat menyesal atas apa yang diperbuatnya. Pada saat yang bersamaan, datanglah dua orang pemuda yang merupakan anak dari sang kakek tadi. Mengetahui ayahnya telah tergeletak tidak bernyawa dan disebelahnya berdiri pemuda itu, mereka lalu menangkapnya. Kemudian, keduanya membawa sang pemuda menghadap Amirul Mukminin; Khalifah Umar bin Khattab RA.
Mereka berdua menuntut dilaksanakan qishash (hukum bunuh) kepada pemuda yang telah membunuh ayah mereka. Lalu, Umar bertanya kepada sang pemuda. Pemuda itu mengakui perbuatannya. Ia benar-benar menyesal atas apa yang telah dilakukannya
Umar lalu berkata, "Aku tidak punya pilihan lain kecuali melaksanakan hukum Allah terhadapmu," sang pemuda dengan lapang dada menerima keputusan tersebut. Ia kemudian meminta kepada Khalifah Umar, agar diberi waktu dua hari untuk pulang ke kampungnya, sehingga dia bisa berpamitan kepada keluarga serta bisa membayar hutang-hutangnya. Umar kemudian berkata, "Hadirkan padaku orang yang menjamin, bahwa kau akan kembali lagi kesini. Jika kau tidak kembali, orang itu yang akan diqishash sebagai ganti dirimu." Pemuda itupun menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, Aku orang asing di negeri ini, aku tidak bisa mendatangkan seorang penjamin."
Salah seorang sahabat mulia, ABU DZAR AL-GHIFARI RA (yang ketika itu usianya terkatagori masih muda) secara kebetulan hadir di majlis tersebut. Beliau kemudian berkata, "Hai Amirul Mukminin, ini kepalaku, aku berikan kepadamu jika pemuda ini tidak datang lagi setelah dua hari." Dengan terkejut, Umar berkata, “Apakah kau yang menjadi penjaminnya, wahai Abu Dzar, sahabat Rasulullah?," "Benar, ya Amirul Mukminin," jawab Abu Dzar lantang.
Pada hari yang telah ditetapkan untuk pelaksanaan hukuman qishah, orang-orang penasaran menantikan datangnya pemuda itu. SANGAT MENGEJUTKAN! Dari jauh sekonyong-konyong mereka melihat pemuda itu datang dengan memacu kudanya. Sampai akhirnya, dia tiba di tempat pelaksanaan hukuman. Orang-orang memandangnya dengan takjub. Umar bertanya kepada pemuda itu, "Mengapa kau kembali lagi ke sini Anak Muda, padahal kau bisa menyelamatkan diri dari maut?" Pemuda itu menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, aku datang ke sini agar jangan sampai orang-orang berkata, 'tidak ada lagi pemuda yang menepati janji di kalangan umat Ini'. Dan agar orang-orang tidak mengatakan, 'tidak ada lagi Pemuda sejati nan kesatria yang berani mempertanggungjawabkan perbuatannya di kalangan umat ini"

Lalu, Umar melangkah ke arah 

Abu Dzar Al-Ghiffari dan berkata, "Dan kau wahai Abu Dzar, bagaimana kau bisa mantap menjamin pemuda ini, padahal kau tidak kenal dengan pemuda ini?" Abu Dzar menjawab, "Aku lakukan itu agar orang-orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi Pemuda jantan yang bersedia berkorban untuk saudaranya seiman dalam umat ini."
 Mendengar itu semua, dua orang pemuda anak kakek yang terbunuh pun ikut berkata, "Sekarang tiba giliran kami, wahai Amirul Mukminin, kami bersaksi di hadapanmu bahwa pemuda ini telah kami maafkan, dan kami tidak meminta apa pun darinya! Tidak ada yang lebih utama dari memberi maaf di kala mampu. Ini kami lakukan agar orang tidak mengatakan bahwa tidak ada lagi pemuda yang berjiwa besar, yang mau memaafkan saudaranya di kalangan umat ini.
Dari kisah tersebut telah jelas bahwa seorang pemuda sejati adalah para pemuda yang berjiwa besar. masih adakah di negeri ini para pemuda ideal (sejati)? kami masih menunggu dan mencari [ ].

Sumber : kisah kisah sejati - Story From Flashdisk 8GB Ammar Yassir

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinamika Perjalanan: Cinta dan Tulisan (bagian 4)

Dunia pengajaran dan pembelajarnya adalah investasi terbesar hidupku. Ilustrasi Galih Pranata dalam alam pengajarannya, membawa tokoh sejarah kepada pembelajarnya (ilustrasi oleh Galih Pranata)  Wahai blogku, kali ini aku memulai tulisan bukan sebagai seorang jurnalis, tapi sebagai guru yang menulis.  Dalam beberapa siniar dan seminar, kunyatakan dengan lantang bahwa investasi terbesarku bukan lagi emas atau tanah, tapi ilmu yang tersampaikan pada pembelajarku di alam pengajaran.  Bukan berarti munafik, emas atau tanah bisa ditempuh dengan pelbagai caraku yang tak perlu publik tahu, tapi menyampaikan ilmu yang manfaat adalah tantangan terbesar dalam hidup.  Menjadi pengajar atau seorang guru memang dipandang sebagai salah satu penghidupan. Cara mendapat makan dari jerih payah mengajar. Tapi, idealitas yang bersemayam dalam dada mengisyaratkan bahwa menjadi guru jangan hanya jadi guru. Selain pengajaran moral dan pengetahuan, aku ingin mewarisi keterampilan hidup yang...

Dinamika Perjalanan: Cinta dan Tulisan (bagian 1)

Sudah sekian lama, ya.  Jika saja blog ini sebuah buku, pasti sampulnya sudah dipenuhi debu.  Fotoku di Malioboro sekira medio 2015 ( dokumentasi pribadi ) Aku ingin sekali meminta maaf padamu, blog lama ku.  Tau kau, wahai blogku? Hari ini, sudah tahun 2023, di mana aku meninggalkan kegemaranku menulis di blog ini sejak 2012 silam. Ya, hampir 11 tahun sudah. Bilalah barang elektronik, mati sudah mesinnya, tak pernah dihidupkan barang semenit.  Dalam kepergian sementara ku itu, aku melalui banyak dinamika perjalanan. Perjalanan panjang di mana aku meniti kehidupan yang lebih nyata, aral yang berarti, dari suka duka yang kulalui, hingga menemukan tambatan hati. Hilang sudah kegalauan cinta darah pemuda, sudah berganti menjadi "jiwa sang ayah" entah sejak kapan. Mungkin saja sejak beristri, dan miliki anak satu. Yang jelas, tahun 2023 adalah waktu yang cukup panjang untuk mengisahkan banyak hal yang aku lewati. *** Terakhir kali menghias blog ini, hidupku di kelilingi ...

Dinamika Perjalanan: Cinta dan Tulisan (bagian 3)

Menulis menjadi jiwaku Ilustrasi masa peliputan untuk majalah  Intisari  di keraton Kasunanan Surakarta (ilustrasi oleh Galih Pranata) Sejak dikaruniai seorang anak pada 6 September 2021, aku mulai menyadari bahwa menulis jadi jiwaku, hidupku dan penghidupan keluargaku. Kuberinama ia: Alhazen, sesuai dengan tokoh yang pernah kutulis, Ibn Al Haytham.  Sampai pada tahun 2025 ini, semangatku untuk terus menulis di media massa belum pernah padam. Aku terus menulis dan menulis, mengabdikan tiga dasawarsa hidup untuk menuangkan gagasan dan segala kesah kehidupan. * Kembali ke tahun 2023 silam, aku bertemu dengan guru-guru hebat yang membawaku pada satu fase terbaik dalam hidupku, membuat buku dan menyeminarkannya di malam yang indah pada 28 Oktober 2023.  Resah dan kesah sebagai pendidik, aku tuangkan bersama para rekan-rekan guru yang sefrekuensi: gemar menulis.  Aku jadi rajin membaca banyak literatur tentang pendidikan, sampai bercita menerbitkan buku perdana tenta...

Music