Langsung ke konten utama

Cerpen : Jakarta Maghrib


“Jakarta Maghrib”
Oleh: Ahmad Faishol a.k.a Co'ol               

                Seperti biasa, sore hari selalu terlihat ramai di ibukota. Jalan-jalan yang sesak, bus jalur kuningan yang padat, klakson saling berbalas. Lampu-lampu mulai di nyalakan, tenda warung pinggir jalan didirikan. Siluet gedung-gedung tinggi tampak angkuh, menantang cemerlangnyalangit sore ini. Semua tampak lelah, semua ingin cepat sampai di rumah.
                Di salah satu gedung itu, aku sedang menyelesaikan berkas terakhirku. Akhir bulan selalu menjadi kesibukan para akuntan, tak terkecuali aku. Memproses angka mentah menjadi laporan keuangan, memastikan semua telah di audit secara akurat. Sederhana? Kurasa tidak. Di bututhkan ketelitian lebih untuk menyelesaikannya. Satu digit salah, kebijakan bisa berubah.
                Selesai menyusun laporan, kubuka akun e-mail, send drafts. Huh, kuhempaskan badanku, santai sejenak. Tak sengaja kulihat jam dinding di pojok ruangan, 17:28.. Damn! Setengah jam lagi KRL langganan akan tiba.
          Refleks, kumasukan semua perlengkapan ke dalam ransel, berlari keluar ruangan, tanpa menonaktifkan akun e-mail. Menekan tombol lift berulang-ulang, menggerutu di dalam lift, tak habis fikir akan keteledoran yang kulakukan
.
                Lokasi tempat tinggal di pelosok timur jakarta mengharuskan memilih moda transportasi tersebut. Selain faktor ketepatan waktu, ongkosnya yang murah menjadikannya pilihan utama para penghuni ibukota.
                Setelah absen, kupercepat langkahku, mengejar tenggat waktu yang tersisa. Aku tak mau menunggu kereta selanjutnya, angkutan umum menuju daerah rumahkuterbilang jarang. Lepas isya, butuh kesabaran lebih menunggu kedatangannya.              
                “ojek, mas?” sahut tukang ojek di ujung jalan, anggukan setuju cukup untuk menjawabnya.
                “stasiun Manggarai, pak !” sebutku.
                Tak lama, deru mesin tua mengisi perjalananku menuju stasiun. 17:38.
***
                Terbatuk-batuk, ojek yang kutumpangi memasuki area stasiun. Kuselipkan selembar lima ribu rupiah di saku jaket si bapak. Setelah mengucap terima kasih, aku bergegas menyelip di kerumunan orang. Suasana ramainya stasiun, padatnya kerumunan orang, memaksaku agar lebih gesit, mendahului langkah pajalan kaki lainnya.
                Sekilas, kulihat rangkaian KRL memasuki area stasiun, menyadari waktuku hampir habis, ku terobos kerumunan orang. Beberapa ku tabrak, mengumpatku. Ku hampiri loket, menyodorkan sekepal uang.
                “Cakung CL, pak !“ ucapku tergesa.
                Dengan kasar, ku ambil karcis dan kembali berlari.
                “commuter line Cakung akan segera berangkat…”
                Sedikit menggerutu, ku tambah lariku. Memasuki peron, kereta mulai berjalan, perlahan. Tatapan heran orang-orang tidak kupedulikan, kereta yang berada dua jalur dariku itu, masih bisa ku kejar.
                Ku seberangi rel pertama, sedikit tersandung. Masih terus berlari, menabrak pedagang asongan. Tak ambil pusing, ku seberangi rel kedua. Seberkas cahaya menyorotku. Treeeeeet !
                Sekejap aku melihat. Semua orang di stasiun berteriak, berseru. Menutup mata.
                BUAGH..!!!
                Badanku terpental sejauh pandangan, orang-orang menatapku tak percaya. Beberapa datang mengerumuni. Menengok keadaanku. Tanpa tenaga kucoba melirik kereta commuter line Cakung dari sela-sela kerumunan, sudah jauh.
                Huh, sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini.

TAMAT
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Repost: 'Jadi Santri Harus Berani'

"Bukan, hidup bukan tentang lemparan dadu. Tapi peluang-peluang yang mungkin itu diciptakan atas dasar keberanian." Lukisan cat cair Galih Pranata saat menjadi ketua pelaksana Pesantren Kilat di MTsN 1 Pusakanagara (dokumentasi pribadi) M aret 2025 lalu, penerbit merayakan novel bertajuk Bunga di Hari Lalu yang kutulis telah terjual ratusan eksemplar. Di samping itu, Managing Chief Editor National Geographic Indonesia, Mahandis Yoanata Thamrin memberi apresiasi atas produktifitas dalam menulis sejumlah artikel. Kata teman-teman redaksi sih , jumlah artikel yang sudah kuterbitkan selalu berkejaran dengan rekor gol megabintang sepak bola, Cristiano Ronaldo. Di mana telah kuterbitkan 931 artikel sejak Agustus 2021, sedangkan Cristiano telah mencatat 933 gol setelah kemenangan Al Nassr atas Al Riyadh (13/04/2025). Namun, dari sejumlah perayaan yang dinikmati. Hanya rasa syukur yang kembali membawaku pulang pada ingatan masa lewat. Ingatan tentang seorang ini bertumbuh dari sebuah...

PERUBAHAN ITU PERLU

B ertepatan pada hari ahad 17 Juni 2012, saga the revolutioner atau santri ikhwan angkatan 15, resmi melepas keluh kesahnya sebagai santri Husnul Khotimah lewat acara akbar yang di gelar di lapang basket putra ponpes dan di hadiri oleh rekan rekan alumnus, para wali santri, juga sejumlah tamu undangan. Haflatul Ikhtitam. Acara yang berdurasi sekitar 420 menit berlangsung secara efektif dan merupakan acara puncak dari perjalanan panjang yang di lalui oleh STR, pasalnya telah banyak cerita yang di teladani selama hidup 4 sampai 6 tahun menuntut ilmu. Tak heran jika para alumni berderai air mata. semua nya berakhir dengan indah, husnul khotimah. Pecahkan Sejumlah Rekor Mengakhiri masa-masa penuh suka duka,tak luput pula oleh torehan yang dituai para revolutioner 15.

Indonesia Bisa Senyum Lagi?

Masih adakah pejuang bangsa ini? Jauh perjuangan mereka para pahlawan bangsa berkorban habis habisan demi memperjuangkan kemerdekaan negara kaya berdaulat Indonesia. mereka terkubur dalam ketenangan dan darahnya menyuburkan tanah bumi pertiwi. tidak akan pernah tenggelam matahari menyinari tanah ini, sampai pada masanya perjuangan pahlawan negara kembali. lihat negeri kita kini, punya banyak limpahan alam namun hanya sedikit menguntungkan, para pejabat negara yang kerjanya foya foya, akhlak para penerus bangsa yang umurnya habis dibunuh narkoba, yang semangatnya runtuh di hantam kehancuran, hanya menunggu waktu negeri kita hilang di hantam  zaman yang namanya di ambang kehancuran. Bagaimana ini kembali? masih adakah pejuang yang darahnya kembali menyuburkan tanah ini, pejuang yang mengorbankan senyumannya untuk anak cucunya di masa depan nanti? pejuang yang mengusir penjajah penjajah berperut buncit? Biar harapan kami menggantung jauh di atas langit, hanya waktu yang ...

Music