Bhagawadgita (Bhagavad Gita) adalah sebuah
bagian dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk dialog yang dituangkan
dalam bentuk syair. Dalam dialog ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa
adalah pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta,
sedangkan Arjuna, murid langsung Sri Kresna yang menjadi pendengarnya. Secara
harfiah, arti Bhagavad-gita adalah "Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga =
kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan
sempurna, ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang
abadi, kekuatan yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan
ketidakterikatan yang sempurna, yang dimiliki sekaligus secara bersamaan).
Syair ini merupakan
interpolasi atau sisipan yang dimasukkan kepada "Bhismaparwa". Adegan
ini terjadi pada permulaan Baratayuda, atau perang di Kurukshetra. Saat itu
Arjuna berdiri di tengah-tengah medan perang Kurukshetra di antara pasukan
Korawa dan Pandawa. Arjuna bimbang dan ragu-ragu berperang karena yang akan
dilawannya adalah sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna
diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) yaitu
Bhagawadgita oleh Kresna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat itu.
Seperti
diketahui kitab Bhagavad Gita yang ditulis + 5000 tahun yang lalu adalah sari
kitab Weda yang mengandung terutama ajaran kerohanian tentang betapa seseorang
seharusnya menyembah kepada Tuhan yang maha esa serta betapa pula seharusnya
manusia itu menjalankan hidupnya dengan budi pekerti luhur terhadap sesamanya dan
juga terhadap mahluk ciptaan Tuhan lainnya. Pendek kata ajaran dalam Bhagavad
Gita ini berisi tentang kesempurnaan hidup yang kesemuanya disampaikan dalam
bentuk dialog antara Krsna dan Arjuna di medan pertempuran Kurukseta sebelum
terjadi perang Bharatayuddha dimulai.
Bhagavad
Gita ini diturunkan melalui utusannya yang sangat dipercaya yaitu Vyasa yang
juga penulis kitab Mahabharata. Ia adalah seorang Wiku yang sangat taat
menjalankan ajaran agamanyadan pengabdiannya pada Tuhan. Bagi Vyasa yang
terpenting dalam hidup ini adalah bagaimana supaya Tuhan memperkenankan dirinya
sebagai alat, wahana, wadah oleh Tuhan, sehingga hidupnya senantiasa selalu
berada di jalan yang dikehendaki Tuhan, Pendek kata hidupnnya benar-benar hanya
pengabdian pada Tuhan yang maha esa.
Bhagavad
Gita, secara singkat, merupakan kitab yang menceritakan ketika Krsna memberikan
wejangan kepada Arjuna yang ketika itu sedang memimpin perang Kurukseta, namun
pada waktu itu ada keraguan dalam diri Arjuna sehingga Krsna memberikan pada Arjuna
suatu dorongan spiritual agar keraguan yang ada dalam diri Arjuna dapat
terkikis habis. Adapun dorongan itu berupa ajaran-ajaran tentang Tuhan, tentang
manusia dan bagaimana manusia seharusnya hidup dan bagaimana manusia dapat
mencapai kesempurnaan hidup.
Bhagavad
Gita untuk pertama kali disabdakan pada dewa matahari lalu dewa matahari itu
menjelaskan sistem itu pada Manu (manusia pertama), lalu Manu menjelsakan pada
Iksvaku. Dengan cara demikian, melalui garis perguruan, dari satu orang yang
bersabda kepada orang lain yang mendengar, sistem yoga ini telah turun temurun.
Tetapi untuk beberapa lama Bhagavad gita ini hilang, karena itu Krsna harus
mensabdakannya kembali melalui Arjuna di medan peperangan.
Arjuna
dipilih oleh Krsna karena Arjuna adalah penyembah yang dianggap kawan. Ada
beberapa tingkatan dalam melihat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, yaitu
: (Sri Srimad,2000,4)
1.
Seseorang dapat
menjadi penyembah dalam keadaan pasif
2.
Seseorang dapat
menjadi penyembah dalam keadaan aktif
3.
Seseorang dapat
menjadi penyembah sebagai kawan/ sahabat
4.
Seseorang dapat
menjadi penyembah sebagai ayah atau ibu
5.
Seseorang dapat
menjadi penyembah sebagai kekasih.
Bhagavad
Gita adalah ajaran yang khusus dimaksudkan untuk penyembah Tuhan. Ajaran
Bhagavad Gita sempat terputus dan melahirkan tiga golongan rohaniawan yaitu
Jnani (orang yang tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan), Yogi (orang yang
bersemedi), dan Bhakta (seorang penyembah). Karena hal inilah maka Krsna
memutuskan untuk membentuk jalur perguruan baru yang dinamakan Pramapara yang
merupakan penyambungan kembali ajaran Bhagavad Gita seperti yang telah
diturnkan melalui dewa matahari pada yang lainnya. Diharapkan Arjuna dapat
menjadi penyeru ajaran Bhagavad Gita karena Arjuna merupakan penyembah Tuhan,
seorang murid Krsna dan juga kawan akrab Krsna. Maka dari itu Bhagavad Gita
hanya dapat dipelajari dan dipahami oleh manusia yang percaya dan menyembah
Tuhan, karena begitu manusia menyembah Tuhan maka ia mempunyai hubungan
langsung dengan Tuhannya. Bhagavad Gita tidak mungkin diturunkan melalui
manusia biasa karena dalam diri manusia biasa mempunyai empat kekurangan yang
dapat membahayakan penyampaian sabda Tuhan, yaitu pertama, orang biasa pasti
berbuat kesalahan, kedua, selalu berkhayal, ketiga, cenderung menipu orang lain
dan keempat, mereka dibatasi oleh indera-indera yang kurang sempurna.
Setelah
mendengar ajaran yang disampaikan Krsna maka Arjuna mengakui dan menyebut Krsna
sebagai para brahman atau Brahman yang paling agung atau dapat dikatakan pula
sebagai kepribadian tuhan yang agung, dan juga sebagai Param dhama atau sebagai
tempat berlindung atau sebagai tempat tinggal yang paling utama. Krsna juga
sebagai Pavitram yang berarti maha suci, dan ada beberapa sebutan untuk
mewakili Krsna sebagai pribadi Tuhan yaitu Purusam (kepribadian yang paling
utama yang menikmati segala sesuatu), Sasvatam (asli), divyam(rohani),
adi-devam(kepribadian Tuhan yang maha esa), ajam (tidak dilahirkan), dan vibhum
(yang maha besar).
Untuk
memahami ajaran Bhagavad Gita ini manusia harus benar-benar yakin bahwa Krsna
adalah Tuhan yang maha esa dan menyerahkan diri sepenuhnya pada-Nya. Manusia
harus menerimanya dengan jiwa bhakti, jika tidak demikian akan sulit sekali
untuk mengungkapkan rahasia yang mulia ini.
Bhagavad
Gita adalah ajaran yang berisi ajaran untuk menyelamatkan manusia dari
kebodohan kehidupan material. Setiap manusia mengalami kesulitan dibanyak hal,
semua penuh kecemasan karena kehidupan material. Kehidupan kita berada dalam
suasana ketiadaan, Sebenarnya tidak dimaksudkan agar kita diancam ketidan,
Eksistensi manusia sifatnya kekal, tetapi bagaimanapun juga kita ditempatkan
dalam asat (menunjukkan sesuatu yang tidak ada). Hanya sedikit manusia yang
mulai mepertanyakan kedudukan mereka, siapa diri mereka, mengapa mereka ada dan
sebagainya dan manusia semacam inilah yang dapat menerima ajaran Bhagavad Gita,
karena kehidupan manusia baru dimulai saat muncul pertanyaan ini.
Adapun mata
pelajaran yang ada dalam Bhagavad Gita ada lima yaitu, pertama, ilmu
pengetahuan tentang Tuhan yang berarti kepribadian yang mengendalikan (Isvara).
Kedua, tentang kedudukan pokok mahluk hidup atau mahluk yang dikendalikan
(Jiva), ketiga, tentang Prakrti (alam material). Keempat, Kala (waktu) dan
kelima adalah Karma ( kegiatan).
Alam material
tidak bebas, alam material bertindak dibawah kekuasaan Tuhan. Krsna mempertegas
hal ini dengan mengatakan bahwa alam material ini bekerja dibawah
pengendalian-Ku. Apabila kita melihat hal-hal yang ajaib terjadi dalam alam
semsta, hendaknya kita mengetahui bahwa dibelakang manifestasi alam semesta ada
kepribadian yang mengendalikan alam semsta itu. Tidak mungkinkiranya sesuatu
terjadi tanpa sebab.
Para Jiva
merupakan bagian dari diri Tuhan yang mempunyai sifat yang sama dengan Tuhan.
Hal ini diungkapkan dengan perumpamaan sebutir emas juga emas, setetes air laut
juga asin. Dapat dikatakan bahwa Jiva atau mahluk hidup merupakan isvara-isvara
kecil yang tunduk atau takluk.
Mahluk
hidup itu juga dapat dimasukkan dalam prakrti yang utama, karena prakrti ada berbagai
tingkatan dan mahluk terutama manusia termasuk prakrti yang utama. Seperti
sudah diungkapkan bahwa Jiva atau mahluk hidup itu termasuk isvara kecil dan
juga prakrti yan utama tentunya jiva memiliki kesadaran, dan hal inilah yang
membedakan prakrti utama dengan prakrti lainnya yang tidak sadarak akan
keberadaannya, namun kesadarannya itu tidak sempurna karena kesadarannya itu
terbatas, berbeda dengan kesadaran yang dimiliki oleh Isvara, yang mempunyai
kesadaran penuh. Alam material atau prakrti mempunyai tiga sifat yaitu sifat
kebaikan (sattvam), sifat nafsu (rajas), dan sifat kebodohan (tamas). Diatas
tiga sifat tersebut ada waktu yang kekal dan kegiatan yang disebut karma yang
terjadi karena gabungan sifat-sifat alam itu di bawah pengendalian dan pengawasan
waktu yang kekal, jadi karma adalah suatu hasil yang kita rasakan setelah
perbuatan yang kita lakukan dimasa lampau, baik itu berakibat baik maupun
berakibat buruk.
Kelima hal
diatas (Isvara, Jiva, Prakrti, Kala) merupakan hal yang kekal adanya, lain
halnya dengan manifestasi dunia ini bersifat sementara namun diakui sebagai
sesuatu yang nyata, yang benar-benar ada. Manifestasi dunia ini mengalami
siklus yang terus berganti, kekekalan dunia ini terletak pada siklus pergantian
tersebut. Lain hal nya dengan karma sifatnay tidak kekal hal ini dikarenakan
karma adalah akibat perbuatan dari masa lampau, dan kita dapat merubah karma
itu dengan penyempurnaan pengetahuan yang kita miliki.
Dalam
Bhagavad Gita dijelaskan juga tentang Reinkarnasi dikatakan bahwa dalam setiap
jiva atau mahluk hidup bersemayam unsur Isvara yang memberi petunjuk pada
manusia agar mereka hidup sesuai dengan apa yang diinginkan oleh tuhan. Namun
terkadang manusia lupa apa yang harus mereka lakukan, pertama-tama mereka
mengambil keputusan untuk bertindak dengan cara tertentu, kemudian dia terikat
dalam tindakan dan reaksi dari karmanya sendiri. Setelah meninggalkan satu
jenis badan, dia masuk ke dalam jenis badan yang lain seperti halnya kita
mengenakan dan membuka pakaian. Selama sang roh berpindah-pindah seperti itu,
ia menderita akibat tindakandan reaksi-reaksi kegiatannya dari dahulu. Kegiatan
ini dapat diubah apabila mahluk hidup berada dalam sifat kebaikan, yaitu waras
dan mengenai jenis kegiatan mana yang harus dilakukannya. Jika mahluk hidup
berbuat seperti itu, maka segala tindakan dan reaksi kegiatannya dari dahulu
dapat diubah. Hal ini yang menyebabkan karma itu tidak kekal. Seperti
ditegaskan dalam Bhagavad Gita bahwa Siapapun yang meninggalkan badannya pada
saat ajalnya, sambil ingat kepada-Ku, akan segera mencapai alam-Ku; kenyataan
ini tidak dapat diragukan-ragukan. Atau dengan kata lain orang disaat akan
meninggal berfikir akan bentuk Krsnapasti ia akan mendekati kerajaan Krsna.
Untuk
mendekati atau memahami ajaran Tuhan maka kita harus mensucikan diri kita dari
kehidupan material, karena dengan menghindarkan diri dari kehidupan material
maka kita akan mencapai suatu kesadaranyang murni. Kegiatan yang sudah
disucikan itu dinamakan sebagai Bhakti. Sebagai gambaran kesadaran yang cemar
itu adanya keinginan untuk menguasai dan menikmati segala sesuatau yang ada
didunia ini, dan kesadaran yang murni atau suci adalah keinginan untuk
bekerjasama dalam melakukan penyembahan terhadap Tuhan yang maha esa.
Dengan
Bhagavad Gita seluruh kehidupan kita akan disucikan dan akhirnya kita dapat
mencapai tujuan di luar angkasa dunia ini, dan tujuan ini disebut sebagai
sanatana atau angkasa rohani yang kekal. Hal ini bisa dipahami karena Jiva atau
mahluk hidup sifatnya kekal, karena Tuhan atau Isvara itu kekal dan Jiva
merupakan bagian atau memiliki unsur yang sama dengan Isvara maka iapun kekal.
Maka sudah selayaknya yang kekal itu kembali kepada kekekalan itu sendiri. Dan
kehidupan yang kekal itu disebut sebagai kehidupan yang suci. Sehingga stiap
manusia akan mencapai suatu sanatana dharma yaitu suatu kewajiban untuk
mengabdi kepada Tuhan yang kekal, kegiatan ini tidak dapat diubah, karena
sanatana dharma itu tidak pernah berawal dan tidak pernah berakhir.
Tidak
mengherankan bahwa pengabdian merupakan sesuatu yang selalu mengikuti setiap
maluk hidup dan ketika mahluk hidup itu mencapai sanatana atau kekekalan maka
pengabdian atau dharma itu juga menjadi kekal
Komentar
Posting Komentar